Ketidakpastian Harga BBM

Gonjang – ganjing harga BBM (Bahan Bakar Minyak) yang diberitakan akhir – akhir ini tentunya cukup meresahkan masyarakat. Ditengah kondisi perekonomian yang sulit diatambah pemberitaan media informasi yang memberitakan ketidakpastian kenaikan harga BBM ini cukup memicu ke-stress-an masyarakat yang butuh biaya transportasi sehingga harga pokok yang lainpun ikut serta melonjak. Ya, tidak hanya ongkos, tentunya biaya akomodasi untuk mengangkut barang – barang daganganpun kian mahal nantinya sehingga harga – harga barang dipasar ikut naik pula. Seperti sayuran, bawang, dan bahan pokok lainnya.

Entah apa yang sedang direncanakan pemerintah bahwa isu ini sudah meluas ke masyarakat tetapi belum juga ada kepastian. Yang pasti tanggapan masyarakat beragam. Seperti yang di kutip oleh tempo .com yang telah melakukan survei yang hasilnya seperti berikut.

Awal Mei lalu, LSN melakukan survei terhadap 1230 responden dari seluruh provinsi di Indonesia. Populasi yang dipilih adalah penduduk Indonesia yang berusia 17 tahun ke atas atau belum 17 tahun, tapi sudah menikah. Berdasarkan survei ini, sebanyak 86,1 persen responden secara tegas menolak kenaikan harga BBM. Hanya 12,4 persen responden yang setuju terhadap kebijakan itu. Sisanya, 1,5 persen responden, menyatakan tidak tahu.

Menurut Umar, mayoritas responden yang tidak setuju rencana kenaikan harga BBM adalah masyarakat dari golongan pendidikan dan penghasilan rendah. Sedangkan hampir seluruh responden yang menyatakan persetujuannya berasal dari golongan masyarakat berpendidikan dan berpenghasilan tinggi.

Umar memaparkan sejumlah alasan kenapa dalam survei itu mayoritas responden menolak kebijakan ini. Ada tiga alasan, ujarnya, yang diungkapkan para responden. Pertama, responden mengkhawatirkan kenaikan harga BBM akan diikuti kenaikan harga barang kebutuhan pokok lainnya sehingga akan memberatkan ekonomi masyarakat golongan tak mampu. Kedua, kenaikan harga BBM tidak akan banyak membantu penyehatan fiskal seperti yang direncanakan pemerintah. Alasan terakhir, responden berprasangka pemberian program bantuan langsung kepada masyarakat sebagai kompensasi kenaikan harga BBM hanyalah skenario politik.

Pada survei itu juga LSN meneliti sikap masyarakat soal program Bantuan Langsung Sementara Masyarakat. Hasilnya, 51,7 persen responden setuju adanya program itu setelah pemerintah menaikan harga BBM, sedangkan 47,2 persen menolak. “Uniknya, yang setuju program BLSM ini adalah masyarakat yang menolak kenaikan harga BBM alias masyarakat dari golongan tidak mampu. Sebaliknya yang menolak program itu adalah responden yang cenderung setuju pada rencana kenaikan harga BBM,” kata Umar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s