mencari alternatif tindakan tawuran

Bangsa indonesia yang saya tau adalah bangsa yang berpedoman pada Pancasila yang berisi 5 kalimat penuh makna yang diantaranya berketuhanan, berkemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung persatuan, kehidupan bermasyarakat yang menjunjung tinggi kebijaksanaan dan musyawarah mufakat, dan yang terakhir mengedepankan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Tentunya jika memang pedoman sederhana ini dijalakan oleh setiap insan Indonesia dengan penuh kesadaran dan pemaknaan yang mendalam, keyakinan bahwa hidup di bumi Indonesia dengan penuh kedamaian dan kesejahteraan akan tercipta.
Tapi sayangnya, kenyataan didepan mata tidak demikian. Ya, lihat saja berita yang ditayangkan setiap pagi ditelevisi, atau baca saja berita dikoran atau majalah yang tersedia dalam bentuk media cetak bahkan elektronik banyak menginformasikan tentang berita tentang kerusuhan, demo, dan beragam pelanggaran pelanggaran yang menghiasi negeri ini.
Salah satu dari beragam berita dan cerita tentang bangsa kita belum lama ini adalah maraknya aksi tawuran pelajar yang dilakukan oleh 2 sekolah yang cukup dikenal di daerah ibu kota. Dengan siswa siswinya yang bukan dari kalangan yang berkekurangan dan tentunya kebanyakan dari mereka memilki intelektualitas yang tidak rendah. Tetapi, entah mengapa dan apa yang menjadi alasan dipikiran kelompok – kelompok pemuda ini untuk membentuk suatu ‘pasukan’ untuk mewakili nama sekolah mereka masing – masing dan saling melempar batu, menggunakan bambu, kayu, bahkan celurit untuk menusuk lawannya. Dapat dibayangkan bukan? Betapa brutal dan mengerikan aksi yang mereka lakukan ini. Lucunya, menurut informasi yang ada, ini semua terjadi sudah sekian lama dengan alasan dendam kesumat yang dahulu terjadi pada beberapa tahun yang lalu dan seolah menjadi tradisi yang harus dilakukan oleh setiap angkatan disekolah itu, dan hebatnya lagi aksi mereka ini didukung oleh para alumni yang melibatkan diri untuk memprofokatori bahkan mungkin memfasilitasi mereka untuk melakukan hal ini, itu yang saya dengan dan lihat sebagai pengakuan mereka sendiri disebuah stasiun televisi swasta Indonesia. Miris bukan?
Lantas jika ini dapat terus terjadi, kemana hasil dari pembelajaran yang mereka dapatkan disekolah sejak pendidikan dasar? Tentang budi pekerti, tentang tenggang rasa, tentang peduli sesama, dan bahkan 5 pedoman pancasila yang telah dibeberkan diawal tulisan ini? Bisa ya mereka sampai hati melakukan ini semua, sampai ada korban yang meregang nyawa, seolah jiwa raga setiap insan ini tidak ada artinya. Dimana pikiran memajukan bangsa dengan intelektual yang tinggi, sikap/perilaku yang berbudaya dengan ciri khas ketimuran yang sarat akan keramahan, tata krama yang baik, dan ketuhanan, juga pemikiran – pemikiran yang mementingkan kemajuan kualitas diri bahkan bangsa dengan prestasi – prestasi dan beragam jenis penciptaan karya yang dapat dibnaggakan. Apakah pemikiran – pemikiran yang terarah kesana sudah dapat dikatakan langka, jika melihat pola tingkah generasi muda yang seperti ini?
Tentunya jangan, ini tidak boleh terjadi lagi. Jadikanlah ini sebagai bahan penyadaran diri setiap insan Indonesia untuk bangkit dan melihat kedepan kemudian berintrospeksi diri. Tapi yakinlah, di bagian daerah lain banyak pula dari mereka yang melakukan penciptaan dan prestasi membanggakan. Ini sebagai motivasi kita bahwa yang penting untuk mengurangi terjadinya praktek tawuran di negara kita tercinta ini, khususnya yang dilakukan oleh pelajar adalah bagaimana kita sebagai generasi sebelumnya dapat mengingatkan kembali dan membimbing mereka suapaya berperilaku yang berpancasila, membangkitkan lagi semangat untuk maju memperbaiki kualitas diri dan memberikan pengaruh untuk perubahan bangsa dengan apapun yang positif dan bermanfaat. Dan sebagai guru, tentunya tidak hanya mengajarkan pendidikan formal saja tapi bimbing pula pendidikan moral dan akhlak setiap siswa sesuai dengan kepribadian bangsa ini
pendidikan dan arahan – arahan orang tua dan penciptaan suasana dilingkungan keluarga yang baik, terarah pada aturan aturan tidak tertulis, tentang sikap, tingkah laku, pengambilan keputusan, bimbingan ilmu agama, memantau dan mengawasi pola tingkah anak – anak karena usia remaja yang harus kita akui kebanyakan masih dalam kondisi labil dan mudah terpengaruh oleh hal – hal external yang menurutnya menarik tapi belum tentu baik, berbijak – bijaklah dalam menyikapi setiap masalah yang dihadapi. Karena semua demi tujuan yang baik dan agar kita dan generasi kita kelak tidak terjerembab dalam kehidupan yang salah, dan tidak berada didalam koridorNYA.
Untuk pastinya, jika memang pikiran ini sudah bisa mengendalikan ketujuan yang baik – baik maka kalian para pemuda, carilah kegiatan yang lebih lebih positif, jika ingin hal yang menantang banyak olahraga, kegiatan sosial, atau kreatifitas seni sekalipun banyak yang menguji kejantanan kalian. Apakah kalian mempu menciptakan hal – hal yang baru dan bermanfaat? Nah, kegitan positif dan bermanfaat seperti itu tentunya menjadi alternatif untuk mengurangi tawuran. Ayo bangkit, jangan berperilaku primitif lagi yaah .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s